Tuesday, November 10, 2015

Pengertian Strategi Belajar Mengajar - Strategi instruksional berhubungan dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dan efisien dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk men- capai tujuan instruksional yang ditetapkan.

Pengertian Strategi Belajar Mengajar


Mengingat adanya kekhususan dalam tujuan instruksional yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan instruksional, adanya lingkungan belajar yang berlain-lainan dalam setiap kegiatan instruksional tersebut, serta keadaan pembaca yang berbeda- beda, dan lain-lain, menyebabkan tidak mungkinnya dapat dilaksanakan satu strategi instruksional umum yang paling baik untuk mencapai semua kegiatan instruksional.

Strategi instruksional yang paling baik dan berhasil digunakan untuk mencapai suatu tujuan instruksional tertentu baik sekelompok pembaca, belum tentu baik dan dapat pula digunakan untuk mencapi tujuan instruksional pada situasi dan kondisi yang lain. Dengan demikian pemilihan strategi instruk- sional yang tepat untuk setiap kegiatan instruksional merupakan keterampilan yang perlu dimiliki oleh setiap guru atau dosen.

Uraian berikut akan menyajikan informasi mengenai hal- hal yang berhubungan dengan strategi instruksional dengan maksud agar para guru/dosen memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pemilihan strategi instruksional tersebut.

Strategi instruksional dapat diartikan sebagai kegiatan  yang dipilih oleh guru atau dosen dalam proses belajar mengajar yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada pembaca menuju kepada tercapainya tujuan instruksional ter- tentu   yang   telah   ditetapkan.   Dalam   memberikan   definisi mengenai strategi instruksional dan Gerey tidak hanya mem- batasi kepada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajaran. Mereka mengatakan sebagai berikut: suatu strategi instruksional terdiri atas semua komponen materi (paket) pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu membaca dalam mencapi tujuan instruksional tertentu.

Dengan demikian strategi instruksional lebih luas dari teknik atau metode pengajaran.Teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi instruksional. Untuk jelasnya akan diberi- kan suatu contoh.

Dalam suatu SAP (Satuan Acara Pengajaran) mata kuliah Dasar-dasar Komunikasi terdapat satu rumusan tujuan instruk- sional khusus sebagai berikut:

Agar pembaca dapat mengidentifikasi macam/bentuk komunikasi

Strategi instruksional yang dipilih untuk mencapai tujuan instruksional khusus ini misalnya sebagai berikut:

1.Pembaca diminta membuat daftar mengenai lima macam cara orang berkomunikasi berdasarkan apa yang dapat diobservasi disekelilingnya.

2.Pembaca diminta membaca dua buah buku yaitu buku Process of Communication karangan Berlo Bab I dan buku Speech communication karangan Brooks, Bab VI.

3.Pembaca dibawa ke suatu diskusi mengenai macam/bentuk komunikasi berdasarkan hasil observasinya dan buku yang sudah dibacanya.

4.Dosen menunjukkan suatu daftar mengenai berbagai kegiatan komunikasi dan mahasiswa diminta untuk menge- lompokkan menurut kategori macam/bentuk komunikasi yang sudah didiskusikan bersama. Jelas kiranya dengan contoh ini bahwa strategi instruksional itu lebih luas dari metode atau teknik pengajaran, karena dalam contoh di atas teknik pengajaran itu adalah pada nomor 3 yaitu dengan menggunakan metode diskusi. Keempat macam kegiatan di atas dilakukan untuk mencapai instruksional yang telah dirumuskan.

Di dalam merencanakan strategi instruksional untuk men- capai tujuan instruksional tertentu, kiranya perlu diketahui terlebih dahulu pola-pola kegiatan belajar mengajar yang sering dijumpai dalam kegiatan instruksional. Dalam hubungan ini Ely (1979) mengatakan ada tiga macam pola dasar kegiatan belajar mengajar ditinjau dari segi jumlah pembaca yang belajar yaitu:
a.Pengajaran untuk kelompok besar yaitu yang diikuti  oleh lebih dari 30 orang
b.Pengajaran untuk kelompok kecil yaitu yang diikuti oleh 5 – 15 orang, dan
c.Pengajaran secara individual yaitu yang diikuti oleh 1 – 3 orang.

Sementara itu dengan segi peninjauan yang berbeda, Komp (1977) juga mengemukakan adanya tiga macam kegiatan belajar mengajar yaitu:
1)Penyajian dimana guru atau dosen menyampaikan informasi kepada pembaca dengan cara ceramah, berbicara secara informal, menulis di papan tulis, menunjukkan sesuatu dengan memakai alat audio visual seperti radio, film, dan lain-lain, menunjukkan benda asli atau tiruannya, dan sebagainya.

2)Studi independent di mana siswa atau pembaca bekerja sendiri melalui kegiatan misalnya membaca buku, memecahkan masalah, menulis laporan, melakukan percobaan di laboratorium, membaca di perpustakaan, membaca modul, dan sebagainya.

3)Interaksi guru pembaca, di mana dalam pola kegiatan ini guru pembaca bekerja sama dalam kelompok- kelompok kecil untuk diskusi, tanya jawab, menger- jakan proyek tertentu, dan sebagainya.

Pola kegiatan belajar mengajar yang mana akan dilaksanakan dalam strategi kegiatan instruksional tidaklah dipilih secara kebutuhan atau sambil lalu saja. Kita harus memberikan per- timbangan secara hati-hati di dalam memilih pola kegiatan instruksional tertentu apabila kita akan menyusun suatu program instruksional.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain :
1.Masalah efisiensi yang bertalian dengan penggunaan waktu yang dimiliki oleh pembaca, fasilitas dan peralatan yang ada.
2.Perbedaan kesempatan, kecepatan dan langgam belajar pembaca.
3.Metode penyampaian yang dapat mengembangkan interaksi antara pembaca-pembaca  atau dosen-dosen secara positif.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengalaman belajar melalui pola kegiatan presentasi (penyajian) dan studi indenvenden (individual) lebih menuju ke pencapaian Tujuan Instruksional Khusus secara memuaskan dalam aspek kognitif dan psikomotor. Pola kegiatan yang terbaik untuk mencapai Tujuan Instruksional Khusus dalam aspek efektif ialah melalui pengalaman studi interaksi. Ketiga pola kegiatan belajar mengajar di atas memberikan suatu kerangka di mana perencanaan untuk proses belajar berfungsi.
Pola kegiatan belajar mengajar tersebut memberikan bantuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  penting sebagai berikut:
1.Apakah terdapat materi pelajaran yang dapat dipresentasi- kan atau disajikan paling baik secara klasikal kepada semua pembaca pada waktu yang sama?
2.Apakah terdapat materi pelajaran yang dapat dipelajari oleh pembaca secara lebih baik secara individual menurut cara dan kecepatan belajarnya masing-masing?
3.Apakah terdapat pengalaman belajar yang dapat diberikan kepada pembaca melalui diskusi-diskusi, dengan atau tanpa kehadiran dosen?
4.Apakah diperlukan diskusi antara dosen pembaca secara individual atau konsultasi secara pribadi?
Dalam mempertimbangkan jawaban-jawaban terdapat pertanyaan-pertanyaan di atas, dosen harus menyadari bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara ketiga pola kegiatan belajar mengajar tersebut sesuai dengan kondisi, situasi,  dan  kebutuhannya.  Lawrence  T.  Alexander    dan

Rokert H. Favis menyebutkan antara lain empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi instruksional yang dilaksanakan yaitu:
a.Tujuan Instruksional Khusus.
b.Keadaan siswa
c.Sumber dan fasilitas untuk melaksanakan suatu strategi tertentu dan
d.Karakteristik teknik penyajian tertentu.

Keempat hal ini akan diuraikan dalam pembahasan berikut.

Tujuan Instruksional Khusus merupakan faktor pertama yang mempengaruhi strategi instruksional yang dilaksanakan. Di atas telah disebutkan bahwa pola kegiatan belajar mengajar presentasi (penyajian) tepat apabila digunakan untuk mencapai tujuan instruksional dalam segi kognitif dan psikomotor. Namun hal itu tidak dapat tepat apabila digunakan untuk mencapai tujuan instruksional yang bersifat efektif yang tereakhir ini lebih tepat apabila digunakan pola kegiatan belajar mengajar interaksi dosen pembaca atau pembaca-pem- baca. Pada umumnya untuk tujuan instruksional segi kognitif dalam tingkatan yang rendah seperti “recall”, penggunaan metode penyajian yang bermacam-macam dapat digunakan dengan hasil yang relatif sama. Tetapi apabila tujuan instruksional segi kognitif tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi seperti mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah, maka peng- gunaan teknik diskusi adalah yang tepat.

Metode diskusi juga tepat digunakan misalnya untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi antar pribadi, mengembangkan kemampuan berfikir secara logis, dan sebagainya.

0 komentar:

Post a Comment

 
close