Sunday, November 29, 2015

Hakikat Belajar dan Pembelajaran


Artikel Versi Mascerdas



a.     Belajar
1) Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang mencakup banyak segi dari seluruh kepribadian manusia. Bagi seorang peserta didik, belajar menjadi tujuan utama, karena dalam belajar seorang peserta didik akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru yang berguna. Menurut Spears “Learning is to observe, to read, to imitate, to try somethig themselves, to listen, to follow direction” (Suprijono, 2009:2). Dalam penjelasan tersebut dapat dimengerti bahwa belajar meliputi aktifitas mengamati, membaca, rneniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu dimana  semua   bertujuan  untuk meningkatkan  pemahaman  peserta  didik mengenai apa yang dipelajari. Purwanto (2013:43) berpendapat bahwa, “Belajar adalah proses untuk membuat perubahan dalam diri peserta didik dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.” Belajar pada dasarnya adalah proses yang dialami siswa dengan  tujuan untuk memperoleh perubahan dalam dirinya, dan proses pembelajaran dapat terjadi di lingkungan dimana seseorang berada.

Gagne (1985) menerangkan, “Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah” (Suprijono, 2012:10). Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa, pengertian belajar adalah suatu perubahan kemampuan seseorang yang diperoleh dengan melakukan aktivitas atau kegiatan. Timbulnya kemampuan tersebut adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan, serta proses kognitif yang dilakukan oleh peserta didik.

Peneliti mengambil kesimpulan berdasarkan definisi belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli diatas, bahwa secara umum belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku, dapat dikatakan jika seorang belajar maka akan membuat tingkah lakunya berubah dan berkembang ke arah lebih baik. Belajar adalah kegiatan fisik, sosial, dan psikis menuju ke perkembangan pribadi seseorang seutuhnya.

2) Ciri-Ciri Belajar
Belajar dapat dikatakan sebagai proses perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman individu. Kegiatan belajar terdapat suatu ciri-ciri belajar yang harus diperhatikan. 

Menurut Sagala (2010:53) bahwa ciri belajar adalah sebagai berikut :
a) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus-menerus, yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya.
b) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual.
c) Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses belajar.
d) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan keseluruhan tingkah laku secara integral.
e) Belajar adalah proses interaksi.
f) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada kompleks.

Selaras dengan hal tersebut, Susilo (2006:39-40) mengemukakan bahwa ciri-ciri (karakteristik) belajar adalah sebagai berikut :

a) Belajar berbeda dengan kematangan
Pertumbuhan adalah saingan utama sebagai pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang melalui secara wajar tanpa adanya pengaruh dari latihan, maka dikatakan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan (maturation) dan bukan karena belajar.

b) Belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental
Perubahan tingkah laku juga dapat terjadi, disebabkan oleh terjadinya perubahan pada fisik dan mental karena melakukan suatu perbuatan berulangkali yang mengakibatkan badan menjadi letih/lelah. Sakit atau kurang gizi juga dapat menyebabkan tingkah laku berubah, atau karena mengalami kecelakaan tetapi hal ini tak dapat dinyatakan sebagai hasil perbuatan belajar.

c) Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap
Hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku. Belajar berlangsung dalam bentuk latihan (practice) dan pengalaman (experience). Tingkah laku yang dihasilkan bersifat menetap dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Aunurrahman (2013:36-37) yang mengemukakan bahwa ciri umum dari kegiatan belajar adalah :

a) Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja.
Aktivitas ini menunjuk pada keaktifan seseorang dalam melakukan sesuatu kegiatan tertentu, baik pada aspek-aspek jasmaniah maupun aspek mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa suatu kegiatan belajar dikatakan semakin baik, bilamana intensitas keaktifan jasmaniah maupun mental seseorang semakin tinggi.

b) Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya.
Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau ditemukan sebelumnya tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi. Adanya interaksi individu dengan lingkungan ini mendorong seseorang untuk lebih intensif meningkatkan keaktifan jasmaniah maupun mentalnya guna lebih mendalami sesuatu yang menjadi perhatian.

c) Hasil belajar ditandai perubahan tingkah laku.
Perubahan tingkah laku pada kebanyakan hal merupakan sesuatu perubahan yang dapat diamati. Akan tetapi juga tidak selalu perubahan tingkah laku yang dimaksudkan sebagai hasil belajar tersebut dapat diamati. Perubahan-peruabahan yang dapat diamati kebanyakan bekenaan dengan perubahan aspek-aspek motorik. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar juga dapat membentuk perubahan pada aspek afektik, termasuk perubahan aspek emosional.

Peneliti mengambil kesimpulan berdasarkan beberapa pendapat diatas, bahwa ciri khas belajar adalah menghasilkan perubahan tingkah laku dalam diri peserta didik. Belajar menghasilkan perubahan tingkah laku secara tetap dalam berpikir, merasa, dan melakukan pada diri peserta didik. Perubahan tersebut terjadi karena hasil latihan, pengalaman, dan pengembangan yang dialami oleh peserta didik.

b. Pembelajaran
1) Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan hal penting dalam pendidikan dimana tujuan-tujuan dari pendidikan tidak tercapai bila sistem pembelajaran yang diterapkan tepat dan benar. Pembelajaran akan bermakna bagi peserta didik apabila guru mengetahui tentang objek yang akan diajarkannya sehingga dapat mengajarkan materi tersebut dengan penuh dinamika dan inovasi dalam proses pembelajarannya. Gagne menyatakan pembelajaran merupakan “An active process and suggest that teaching involves facilitating active mental process by students” (Isjoni, 2009:50). Hal tersebut dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran siswa berada dalam posisi proses mental aktif dan guru berfungsi mengkondisikan terjadinya pembelajaran, dalam penerapannya model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan siswa. 

Hal serupa juga diungkapkan oleh Surya yang menyatakan “Pembelajaran adalah suatu proses perubahan yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Isjoni, 2009:50). Pembelajaran merupakan proses perubahan perilaku secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu melalui interaksi yang dilakukan dalam lingkungannya. Aunurrahman (2013:34) berpendapat bahwa, “Pembelajaran berupaya mengubah masukan siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.” 

Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan berbagai pendapat diatas, bahwa pembelajaran adalah proses mengatur lingkungan agar terjadi interaksi aktif antara guru dan peserta didik, dengan mengoptimalkan faktor eksternal dan internal yang datang dari lingkungan individu. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengubah siswa yang belum terdidik atau belum memiliki pengetahuan menjadi siswa yang terdidik dan berpengetahuan.

2) Pengertian Model Pembelajaran
Terdapat banyak model-model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam menyampaikan materi pada peserta didik. Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional sekolah. Menurut Dahlan (1990) “Model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu  rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas” (Isjoni, 2009:49). Pendapat tersebut menjelaskan bahwa, model pembelajaran merupakan rencana untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran yang akan diajarkan pada peserta didik, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas agar pengajar dapat tahu apa yang akan dilakukan didalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.

Menurut Arends (1997) “Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tentorial” (Suprijono, 2012:46). Dari penjelasan tersebut dapat di mengerti bahwa model pembelajaran merupakan pola yang dipakai sebagai acuan ataupun pedoman dalam perencanaan pembelajaran baik dikelas ataupun diluar kelas.
Peneliti menarik kesimpulan dari pendapat kedua tokoh yang telah diuraikan diatas, bahwa model pembelajaran adalah kerangka konsep dimana didalamnya terdapat pengaturan mengenai bentuk-bentuk serta teknis dalam menyampaikan materi dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran perlu dipahami guru agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam rneningkatkan hasil pembelajaran.

3) Macam-macam Model Pembelajaran
Terdapat banyak jenis model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam usaha mengoptimalkan hasil belajar siswa. Berikut merupakan jenis-jenis model pembelajaran menurut Suprijono (2009) diantaranya adalah:

a) Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung atau direct instruction dikenal dengan sebutan active teaching. Model pembelajaran langsung merupakan model yang lebih berpusat pada guru dan lebih mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar.

b) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model pembelajaran kooperatif merupakan konsep yang lebih luas, meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih diarahkan oleh guru. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda yang belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen.

c) Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. 

Sedangkan Sugiyanto (2009) berpendapat bahwa jenis-jenis model pembelajaran adalah sebagai berikut :
a) Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari yang dialami siswa.

b) Model Pembelajaran Kooperatif 
Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi untuk mencapai tujuan belajar.

c) Model Pembelajaran Kuantum
Model pembelajaran kuantum adalah model pembelajaran yang menenkankan pada percepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran sehingga menjadi proses pembelajaran yang bermakna dan bermutu. Konteks pembelajaran meliputi suasana dan lingkungan belajar yang menggairahkan atau mendukung untuk belajar.

d) Model Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, tema ini menjadi pemersatu maateri yang beragam dari beberapa materi pelajaran. Pembelajaran terpadu perlu memilih materi dari beberapa mata pelajaran yang saling terkait.

e) Model Pembelajaran Bebasis Masalah (Problem Based Learning)
Model pembelajaran bebasis masalah mendorong guru untuk melibatkan peserta didik dalam proyek yang berorientasi masalah dan membantu mereka dalam menyelidikinya, sehingga peserta didik belajar melalui proses pemecahan masalah tersebut secara mandiri.

Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan penjelasan dari kedua tokoh tersebut, bahwa jenis-jenis model pembelajaran adalah sebagai berikut :
a) Model Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang berpusat pada guru dan  mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar.

b) Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual adalah proses pembelajaran yang bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap kehidupan mereka sehari-hari.

c) Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. Pembelajaran kooperatif didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri.

d) Model Pembelajaran Kuantum
Pembelajaran kuantum adalah pembelajaran yang mampu menciptakan interaksi dan keaktifan siswa, sehingga kemampuan, bakat, dan potensi siswa dapat berkembang, yang pada akhirnya mampu meningkatkan prestasi belajar dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunaan cara dan alat yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara mudah. Tujuan dari model ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan

e) Model Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. 

f) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah yang dirancang dalam konteks yang relevan dengan materi yang dipelajari. Sehingga peserta didik belajar melalui proses pemecahan masalah tersebut secara mandiri.
Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning), yaitu model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. 

0 komentar:

Post a Comment

 
close