Friday, October 9, 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

    Salah satu strategi dalam pembelajaran yang digunakan adalah metode pengalaman. Pembelajaran dengan metode pengalaman sendiri merupakan suatu bentuk kesengajaan yang tidak disengaja (unconsencious awareness). Yaitu pembelajaran yang didapat secara tidak sengaja ataupun disengaja dari pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik.

    Pengalaman cukup penting pengaruhnya dalam proses peserta didik untuk dapat lebih memahami isi dari pembelajaran. Sehingga dengan adanya pengalaman, peserta didik akan dapat dengan mudah mamahami apa isi dan tujuan dari pembelajaran yang dilakukan. Karena peserta didik tersebut pernah mengalami sesuatu yang sesuai dengan materi pembelajaran. Dan dengan adanya pengalaman, peserta didik juga dapat mengaplikasikan pengalaman tersebut dalam kelas untuk membantu memahami pembelajaran.

B.RUMUSAN MASALAH

    Setelah   melihat   pemaparan   latar   belakang   diatas,   kami   merumuskan  beberapa hal yang dijadikan rumusan masalah dalam makalah ini antara lain :

    1.Apa yang dimaksud dengan model experiental learning ?

    2.Apa saja ciri model experiential learning ?

    3.Bagaimana tahap-tahap pelaksanaan model experiential learning ?

    4.Apa saja kelebihan model experiental learning ?

    5.Apa saja kelemahan model experiential learning?

    6.Bagaimana impelentasi dalam pembelajaran ekonomi?


C.TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

    Tujuan kami menulis makalah mengenai “Strategi Pembelajaran Model Pengalaman” ini adalah guna memenuhi  tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar.

    Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca tentang bagaimana pembelajaran dengan model pengalaman dari berbagai tokoh , mengetahui ciri, prosedur/alur pembelajaran model pengalaman, serta mengetahui apa saja kelebihan dan kelemahan dari model tersebut dan mampu mengimplementasikannya dalam pembelajaran ekonomi.


BAB II
PEMBAHASAN

    A.Pengertian Model Experiential Learning

    Pembelajaran dengan model experiential learning mulai diperkenalkan pada tahun 1984 oleh David Kolb dalam bukunya yang berjudul “ Experiential Learning, experience as the source of learning and development”. Experiential Learning mendefinisikan belajar sebagai “proses bagaimana pengetahuan diciptakan melalui perubahan bentuk pengalaman. Pengetahuan diakibatkan oleh kombinasi pemahaman dan mentransformasikan pengalaman” (Kolb 1984: 41). Gagasan tersebut akhirnya berdampak sangat luas pada perancangan dan pengembangan model pembelajaran seumur hidup (lifelong learning models). Pada perkembangannya saat ini, menjamurlah lembaga-lembaga pelatihan dan pendidikan yang menggunakan Experiential Learning sebagai metode utama pembelajaran bahkan sampai pada kurikulum pokoknya. Kolb mengusulkan bahwa  experiential learning mempunyai enam karakteristik utama, yaitu:

  •     Belajar terbaik dipahami sebagai suatu proses
  •     Belajar adalah suatu proses kontinyu yang didasarkan pada pengalaman
  •   Belajar memerlukan resolusi konflik-konflik antara gaya-gaya yang berlawanan dengan cara dialektis.
  •    Belajar adalah suatu proses yang holistik.
  •    Belajar melibatkan hubungan antara seseorang dan lingkungan.
   
   Belajar adalah proses tentang menciptakan pengetahuan yang merupakan hasil dari hubungan antara pengetahuan sosial dan pengetahuan pribadi

    Experiential learning itu adalah proses belajar, proses perubahan yang menggunakan pengalaman sebagai media belajar atau pembelajaran. Experiential Learning adalah pembelajaran yang dilakukan melalui refleksi dan juga melalui suatu proses pembuatan makna dari pengalaman langsung. Experiential Learning berfokus pada proses pembelajaran untuk masing-masing individu.

    Experiential Learning adalah suatu pendekatan yang dipusatkan pada siswa yang dimulai dengan landasan pemikiran bahwa orang-orang belajar terbaik itu dari pengalaman. Dan untuk pengalaman belajar yang akan benar-benar efektif, harus menggunakan seluruh roda belajar, dari pengaturan tujuan, melakukan observasi dan eksperimen, memeriksa ulang, dan perencanaan tindakan. Apabila proses ini telah dilalui memungkinkan siswa untuk belajar keterampilan baru, sikap baru atau bahkan cara berpikir baru.

    Jadi, experiential learning adalah suatu bentuk kesengajaan yang tidak disengaja (unconsencious awareness). Contohnya, ketika siswa dihadapkan pada game Spider Web atau jaring laba-laba. Tugas kelompok adalah menyeberang jaring yang lubangnya pas dengan badan kita, namun tidak ada satu orangpun yang boleh menyentuh jaring tersebut. Tugas yang diberikan tidak akan berhasil dilakukan secara individual karena sudah diciptakan untuk dikerjakan bersama. Untuk mencapai kerjasama yang baik, pasti akan timbul yang namanya komunikasi antaranggota kelompok. Lalu muncullah secara alami orang yang yang berpotensi menjadi seorang inisiator, leader, komunikator, ataupun karakter-karakter lainnya.


    B.Ciri Model Experiential Learning

    Experiential Learning itu sendiri berisi 3 aspek yaitu: Pengetahuan (konsep, fakta, informasi), Aktivitas (penerapan dalam kegiatan) dan Refleksi  (analisis dampak kegiatan terhadap perkembangan individu). Ketiganya merupakan kontribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Relasi dari ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut:



Bagan relasi

    Sedangkan dalam merancang pelatihan experiental learning, ada 4 tahapan yang harus dilalui yaitu: 1 Experiencing, tantangan pribadi atau kelompok, 2. Reviewing: menggali individu untuk mengkomunikasikan pembelajaran dari pengalaman yang didapat, 3. Concluding menggambarkan kesimpulan dan kaitan antara masa lalu dan sekarang, serta 4. Planning: menerapkan hasil pembelajaran yang dialaminya.

    Model Experiential Learning sebagai pembelajaran dapat di lihat sebagai sebuah siklus yang terdiri dari dua rangkaian yang berbeda, memiliki daya tangkap dalam pemahaman dan memiliki tujuan yang berkelanjutan. Bagaimanapun, kesemua itu harus diintegrasikan dengan urutan untuk mempelajari apa yang terjadi. Daya tangkap dalam memahami sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengamatan yang dialami lewat pengalaman, sementara tujuan yang berkelanjutan berhubungan dengan perubahan dari pengalaman. Komponen-komponen tersebut harus saling berhubungan untuk memperoleh pengetahuan (baker, Jensen, Kolb, 2002). Dengan kata lain dapat disingkat sebagai berikut “ pengamatan yang dilakukan sendirian tidak cukup dijadikan pembelajaran, harus dilakukan secara terperinci dan perubahan yang dilakukan sendiri tidak dapat mewakili yang dibutuhkan pembelajaran, untuk itu diperlukan perubahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran” (baker, Jensen, Kolb, 2002 p.56-67).

    Model Experiential Learning mencoba menjelaskan mengapa pembelajaran lewat pendekatan pengalaman belajar berbeda dan mampu mencapai tujuan. Hal ini dibuktikan oleh berkembangnya kecakapan yang cukup baik yang dimiliki oleh beberapa individu setelah dibandingkan dengan individu lain (Laschinger, 1990).

    Metode yang ideal dalam belajar seperti yang di kemukakan Dewey dalam teorinya tentang hasil aktivitas atau penyelesaian proyek, sebagai berikut;

    1)Murid harus benar-benar tertarik pada kegiatan, pengalaman atau pekerjaan yang edukatif.

    2)Ia harus menemukan dan memecahkan kesukaran atau masalah.

    3)Mengumpulkan data-data melalui ingatan, pemikiran dan pengalaman pribadi atau penelitian.

    4)Menentukan cara pemecahan kesukaran atau masalah.

    5)Mencoba cara terbaik untuk memecahkan sesuatu melalui penerapan dalam pengalaman.

    Dalam proses belajar, seorang siswa harus memusatkan perhatiannya pada pemecahan suatu masalah pokok, harus berpandangan luas dan menerima semua sumber informasi atau saran yang masuk akal.


    C.Tahap-tahap Pelaksanaan Model Experiential Learning

    David Kolb, mengembangkan Model Experiential Learning  yang dapat digambarkan seperti berikut ini:


Siklus  Model Experiential Learning David  Kolb

    Pembelajaran Model Experiential Learning dimulai dengan melakukan (do), refleksikan (reflect) dan kemudian terapkan (apply). Jika dielaborasi lagi maka akan terdiri dari lima langkah, yaitu mulai dari proses mengalami (experience), berbagi (share), analisis pengalaman tersebut (proccess), mengambil hikmah atau menarik kesimpulan (generalize), dan menerapkan (apply). Begitu seterusnya kembali ke fase pertama, alami. Siklus ini sebenarnya tidak pernah berhenti.

    Masing-masing tujuan dari rangkaian-rangkaian tersebut kemudian muncullah langkah-langkah dalam proses pembelajaran, yaitu: Concrete experience, Reflective observation, Abstract conceptualization, Active experimentation.

Siklus empat langkah dalam Experiential Learning David  Kolb

    Adapun penjabaran dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

    a.Concrete experience (feeling): Belajar dari pengalaman-pengalaman yang spesifik. Peka terhadap situasi.

    b.Reflective observation (watching): Mengamati sebelum membuat suatu keputusan dengan mengamati lingkungan dari perspektif-perspektif yang berbeda. Memandang dari berbagai hal untuk memperoleh suatu makna.

   c.Abstract conceptualization (thinking): Analisa logis dari gagasan-gagasan dan bertindak sesuai pemahaman pada suatu situasi.

    d.Active experimentation (doing): Kemampuan untuk melaksanakan berbagai hal dengan orang-orang dan melakukan tindakan berdasarkan peristiwa. Termasuk pengambilan resiko.
   
    Empat tahap yang dikembangkan oleh Honey dan Mumford, yang secara langsung saling terkait, karena berbeda dari model Kolb di mana cara belajar yang merupakan produk kombinasi pembelajaran tahapan siklus. Yang khas dari Honey dan Mumford tentang gaya masing-masing tahapan pada lingkaran atau empat tahap berhubung dengan putaran arus diagram.

    a.Memiliki sebuah Pengalaman  tahap 1, dan Aktivis (gaya 1): 'di sini dan sekarang', suka berteman, mencari tantangan dan pengalaman langsung, buka hati, bosan dengan pelaksanaan.

   b.Meninjau kembali Pengalaman tahap 2 dan Reflectors (gaya 2): 'mundur', mengumpulkan data, merenungkan dan menganalisa, keterlambatan mencapai kesimpulan, mendengarkan sebelum berbicara.

    c.Menyimpulkan berdasarkan Pengalaman tahap 3 dan Theorists (gaya 3): berpikir logis dalam hal melalui langkah-beda mencernakan fakta menjadi jelas teori, tujuan akal, menolak subyektivitas dan kesembronoan.

    d.Perencanaan langkah berikutnya tahap 4 dan Pragmatists (gaya 4): mencari dan mencoba ide-ide baru, praktis, bawah-ke-bumi, menikmati pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dengan cepat, bosan dengan diskusi panjang.

    Hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiential learning adalah sebagai berikut:

   a)Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pegalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) mengenai hasil yang potensial atau memiliki seperangkat hasil-hasil tertentu.

    b)Guru harus bisa memberikan rangsangan dan motivasi pengenalan terhadap pengalaman.

   c)Siswa dapat bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok-kelompok kecil/keseluruhan kelompok di dalam belajar berdasarkan pengalaman.

    d)Para siswa di tempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya siswa mampu memecahkan masalah dan bukan dalam situasi pengganti.

    e)Siswa aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia,membuat keputusan sendiri, menerima konsekuensi berdasarkan keputusan tersebut.

    f)Keseluruhan kelas menyajikan pengalaman yang telah dituangkan ke dalam tulisan sehubungan dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas pengalaman belajar dan pemahaman siswa dalam melaksanakan pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam pengalaman tersebut.

    Tahapan-tahapan Model Experiential Learning perlu diawali dengan sesuatu yang dianggap menantang bagi siswa. Intinya adalah biarkan dulu mereka mengalami, merefleksikan dan memaknai apa yang telah mereka pelajari.

    Selain beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiential learning diatas, guru juga harus memperhatikan metode belajar melalui pengalaman ini, yaitu meliputi tiga hal di bawah ini:

    Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa dan berorientasi pada aktivitas.

    Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah proses belajar, dan bukan hasil belajar.

    Guru dapat menggunakan strategi ini dengan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

    Berdasarkan pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran experiential learning disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang dimiliki oleh siswa. Prinsip inipun berkaitan dengan pengalaman di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta dalam cara-cara belajar yang biasa dilakukan oleh siswa.


    D.Kelebihan Model Experiental Learning

    Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.

    Kelebihan dari pembelajaran experiental learning adalah hasilnya dapat dirasakan bahwa pembelajaran lewat pengalaman lebih efektif dan dapat mencapai tujuan secara maksimal. Serta mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya. Membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan, berpikir dan trampil dalam pemecahan masalah, Belajar peranan orang dewasa yang autentik, menjadi pembelajar yang mandiri dan aktif dalam pelajaran,

        Kelebihan lainnya antara lain:

    a.Meningkatkan partisipasi peserta didik,

    b.Meningkatkan sifat kritis peserta didik,

    c.Meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain.

    Beberapa manfaat model experiential learning dalam membangun dan meningkatkan kerjasama kelompok antara lain adalah:

    a)mengembangkan dan meningkatkan rasa saling ketergantungan antar sesama anggota kelompok.

    b)meningkatkan keterlibatan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan .

    c)mengidentifikasi dan memanfaatkan bakat tersembunyi dan kepemimpinan.

    d)meningkatkan empati dan pemahaman antar sesama anggota kelompok.

    Sedang manfaat model experiential learning secara individual antara lain adalah:

    a)meningkatkan kesadaran akan rasa percaya diri .

    b)meningkatkan kemampuan berkomunikasi, perencanaan dan pemecahan masalah.

    c)menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi situasi yang buruk.

    d)menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya antar sesama anggota kelompok.

    e)menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerjasama dan kemampuan untuk berkompromi.

    f)menumbuhkan dan meningkatkan komitmen dan tanggung jawab.

    g)menumbuhkan dan meningkatkan kemauan untuk memberi dan menerima bantuan.

    h)mengembangkan ketangkasan, kemampuan fisik dan koordinasi.

    Tokoh ahli lain juga menyebutkan kelebihan dari pembelajaran dengan model experiential learning, yaitu :

    1.Siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi dalam   kelompoknya.

    2.Aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran sehingga terlibat langsung dalam   pembelajaran.

    3.Dapat membiasakan siswa untuk memahami permasalahan sosial (merupakan implementasi pembelajaran yang berbasis kontekstual).

    4.Dapat membina hubungan personal yang positif.

    5.Dapat membangkitkan imajinasi.

    6.Membina hubungan komunikatif dan bekerja sama dalam kelompok.

    E.Kelemahan Model Experiential Learning

    Adapun kekurangannya dari pembelajaran dengan model experiental learning adalah sulitnya mencari problem yang relevan, sering terjadi miss konsepsi dan di butuhkannya waktu yang cukup panjang dalam menyelesaikan masalah.

    Kelemahan lain yaitu :

    a.Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak,

    b.Sangat bergantung pada aktivitas siswa,

    c.Cenderung memerlukan pemanfaatan sumber belajar,

    d.Banyak siswa yang kurang menyenangi sosiodrama sehingga  sosiodrama tidak efektif.

    e. Impelentasi Dalam Pembelajaran Ekonomi

    Di dalam proses belajar dengan metode experiental learning, pengajar berfungsi sebagai seorang fasilitator. Artinya pengajar hanya memberikan arah (guide) tidak memberikan informasi secara sepihak dan menjadi sumber pengetahuan tunggal. Setelah siswa melakukan suatu aktivitas, selanjutnya siswa akan mengabstraksikan sendiri pengalamannya. Seperti misalnya apa yang dirasakan oleh mereka dalam menyelenggarakan pertunjukkan, permasalahan yang dihadapi, bagaimana cara menyelesaikan masalah, apa yang dapat dipelajari untuk memperbaiki diri di masa depan. Jadi, pengajar lebih menggali pengalaman peserta itu sendiri. Untuk itu kemampuan yang diperlukan untuk menjadi fasilitator adalah mengobservasi perilaku siswa, menghidupkan suasana aktif partisipatif, bersikap netral dan percaya atas kemampuan siswa untuk memecahkan persoalannya sendiri.Dengan demikian pembelajaran dengan metode ini akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya.

    Sebagai contoh, Sering kali manusia dihadapkan pada pilihan hidup. Salah satunya adalah pilihan akan alat pemenuhan kebutuhan. Namun untuk mendapatkan alat pemenuhan kebutuhan tersebut, manusia harus memilih manakah yang lebih penting. Dimana dalam ekonomi hal seperti ini disebut dengan istilah “opportunity cost” yaitu biaya peluang.

    Contoh pengalaman yang berhubungan dengan opportunity cost adalah pada saat seorang mahasiswa mempunyai uang sebesar Rp.10000,- dia dihadapkan  pada pilihan apakah uang itu akan digunakan untuk membayar iuran kas kelas atau digunakan untuk membeli makan.

    Dalam hal ini, peristiwa yang dialami mahasiswa dapat diterapkan untuk dapat mempelajari ilmu ekonomi khususnya tentang opportunity cost. Sehingga ia tahu hal mana yang harus didahulukan atau yang sangat perlu dikeluarkan pada saat itu juga.


BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan

    Model pembelajaran dengan pengalaman disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang dimiliki oleh siswa. Prinsip inipun berkaitan dengan pengalaman di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta dalam cara-cara belajar yang biasa dilakukan oleh siswa

    Dalam proses belajar, seorang siswa harus memusatkan perhatiannya pada pemecahan suatu masalah pokok, harus berpandangan luas dan menerima semua sumber informasi atau saran yang masuk akal.

    Tantangan yang terkait dengan penerapan Model Experiential Learning terkadang tidak mengenal kompromi. Untuk siswa, pengalaman yang akan diterima kadang membuat mereka merasa tegang dan juga menyenangkan. Idealnya, begitu mereka mulai mempercayai dan berani untuk mencoba, mereka akan berhasil secara fisik dan emosional dan mengetahui bahwa sesuatu yang tampaknya tidak mungkin untuk dilakukan sebenarnya dapat dilakukan.


B.Saran

    Metode yang sebaiknya digunakan untuk pembelajaran yang kegiatannya menarik adalah metode disiplin bukan metode kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat dijadikan metode pendidikan karena merupakan suatu kekuatan yang datang dari luar dan didasari oleh suatu asumsi bahwa ada tujuan yang baik dan bersifat secara objekti.

    Kekuasaan tidak sesuai dengan kemauan dan minat anak seandainya ia tidak merasakan suatu masalah dimana ia tidak mengetahuinya. Disiplin muncul dari dalam diri anak, namun dituntut suatu aktivitas dari anak yang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Ilham, Budiman. 2014.Model Pembelajaran Experiental Leranig, (Online), (http://fisikasma-online.blogspot.com/2010/11/model-pembelajaran-experiental-learning.html, diakses tanggal 22 Oktober 2014)

1 komentar:

 
close